CINTA TAK SAMPAI
Oleh: Annisa Dewi

“Zoyaaaa.” Soni memangil Zoya setengah memekik. Zoya yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya di warung bakso dekat sekolah kontan menoleh ke arah Soni yang memarkir mobilnya di depan gerbang sekolah Zoya. Wajah Zoya berubah, merasa aneh dengan kedatangan Soni.
“Zoya” sekali lagi Soni memanggil namun tak sampai memekik. Sesaat kemudian Soni meghampiri Zoya yang masih terbengong.
“Heloo” Soni mengguncangkan badan Zoya yang masih juga tak sadar. Bengong.
“Eh..eh.. Iya apa?” Zoya tampak gugup plus kaget.
“Gue jemput loe. Kakak loe yang minta katanya dia ada kuliah tambahan siang ini.” jelas Soni tanpa diminta.
“Ohh..”
“Kok Cuma ohh sih? Loe mau pulang sekarang?”
“Eh iya, sebentar gue bayar dulu.” Zoya merogoh tasnya lalu mennyerahkannya ke Tukang bakso. “Eh temen-temen gue pulang duluan yah.” Pamitnya kepada teman-temannya.
“Siip.” Sahut salah satu temannya sembari mengacungkan jempol. Ada juga yang mengedipkan mata.
***
Soni itu teman satu kampus Cakra kakak Zoya. Wajar saja bila Soni sudah sangat akrab dengan Zoya, ia sering mampir ke rumah Cakra atau sekedar mengantar Cakra pulang dari kuliah atau Hang Out bareng. Cowok blasteran Jawa-Belanda itu cakep juga, hidungnya mancung matanya coklat, tubuhnya tinggi kulitnya putih bersih. Salah satu cowok idaman Zoya juga.
“Zoya.” Soni membuka percakapan.
“Iya.”
“Gue..gue..” Soni terlihat sangat gugup. Dari mimik mukanya sepertinya ia sedang menahan sesuatu untuk dibicarakan.
“Iya loe kenapa? Mau pipis? Ya udah berhenti aja.” Zoya mencoba mencairkan suasana.
“Bukan…bukan..”
“Terus apaan dong?”
“Ah lupain aja deh”
“Gue suka sama loe Zoya.” batin Soni menjawab. Sudah cukup lama Soni memendam perasaannya pada Zoya. Terhitung sejak saat pertama ia bertemu dengan Zoya, ketika itu Soni sedang menjenguk Cakra yang sedang sakit. Ia terpesona dengan kelembutan sikap dan cara Zoya merawat Cakra saat itu. Tapi hingga saat ini belum ada keberanian di hati Soni untuk mengungkapkan perasaannya.
“Loe mau ngomong apa sih? Kok nggak jadi? Gue dengerin kok.” Zoya tampak penasaran dengan sikap Soni yang tampaknya agak kecewa.
“Nggak kok.” Soni menolak untuk melanjutkan kalimatnya. Soni berfikir sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Zoya. “Eh.. udah nyampe nih.”
Ciiit bunyi rem berdecit soni menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Zoya. Cuuup sesaat kecupan Zoya mendarat mulus di pipi kiri Soni. “Makasih ya udah nganterin aku pulang.” Zoya langsung berlari masuk rumah.
Soni masih bengong seperti tak sadarkan diri. Ah tampaknya kecupan Zoya memebuat Ia melayang terbang. Plok “Auh sakit,” ia tepuk pipinya dan mencoba meyakinkan behwa in bukanlah mimpi dan ternyata ini memang nyata bukan mimpi. Kenyataan yang terasa seperti mimpi. Soni masih seperti bermimpi lama ia terpaku di dalam mobil.
***
Semalaman Soni tak bisa tidur ia mendadak terserang insomnia. Ia masih terbayang saat Zoya mencium pipinya seolah-olah ia masih merasakan hangatnya kecupan Zoya saat itu. Ia terus memutar otaknya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Apakah Zoya juga menyukainya? Atau itu hanyalah ungkapan rasa terima kasih Zoya karena ia telah mengantarnya pulang kemarin. Tapi Zoya tak pernah berlebihan seperti itu.
“Telepon tidak telepon tidak telepon.” Soni komat kamit sambil menghitung kancing bajunya dan ia berhenti pada kata TELEPON. Ia masih tampak ragu-ragu untuk menghubungi Zoya untuk menyatakan perasaannya sekaligus menanyaakan perasaan Zoya padanya.
Tut tut tut bunyi tombol hape Soni kali ini ia benar benar menelepon Zoya. Teet teet “Nomor telepon yang anda tuju sedang…” suara sang operator, bukanlah suara yang dinanti ingin didengar oleh Soni. Satu lagi tanda Tanya besar di hati Soni.
***

Tok tok tok.. ku coba lagi mengnetuk pintu rumah Zoya. Sudah dua jam aku berdiri dan menunggu dibukakan pintu. Sejenak aku berhenti dan mencoba melebarkan telinga mencari jika saja ada suara dari dalam, namun tak terdengar apapun. Sunyi. Kemana Zoya? Kemana Cakra dan keluarganya pergi?
Plok. Kurasakan ada tangan yang emnepuk pundakku. Dengan penuh harapan aku memelingkan muka, tapi bukanlah wajah manis Zoya yang ada dihadapanku sekarang. Seorang bapak memakai kaos biru oblong dan celana boxer lengka dengan sepatu boot. Dari pakaiannya bis aditebak kalau bapak ini adalah tukang kebun, mungkin tukang kebun rumah sebelah.
“ Kamu mencari pemilik rumah ini?”tanyanya datar tak berekspresi.
“ Benar Pak. Apakah bapak tahu kemana perginya mereka?”
Ia tak menjawab, hanya menggeleng sembari menyodorkan sebuah amplop. Lalu berlalu saja tanpa permisi. Aku tertegun memandanginya, tapi sejenak kemudian perhatianku beralih pada amplop biru yang kini berada digenggamanku. Apakan ini dari Zoya? Kemana Ia pergi sehingga harus menitip surat segala. Kenapa ia tidak langsung asaja menghubungiku? Ughh berbagai pertanyaan timbul diotakku. Ah apapun ini aku akan membacanya dirumah saja.
***


Soni...
Aku tahu pasti kamu terkejut mengapa aku mengirim surat, dan tidak langsung menghubungimu saja. Mungkin sasat kamu membaca surat ini kita tak akan bertemu lagi dalam waktu yang cukup lama.
Aku pergi ke Australia untuk melanjutkan kuliah disana. Aku sudah mendambakan ini sejak aku masuk sma. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya tentang kepergianku yang mungkin sangat mendadak untukmu tapi sebenarnya ini sudah sangat terencana.
Sebenarnya Cakra sempat ingin member tahumu tengtang ini tapi aku mencegahnya. Soal kemarin, maafkan atas kelancanganku. Kemarin sengaja aku menyruh Cakra agar kamu yang menjemputku. Aku tahu aku suka sam kamu dan aku juga tahu dari sorotan matamu kakau sebenarnya kau juga menyukaiku. Kemarin aku ingin sekali mendengar pengkuan itu dari mulutmu. Tapi aku tak mendapatkannya, mungkin cintaku memang bertepuk sebelah tangan.
Sekarang saat kamu membaca suratku aku yakin dan kamu juga harus tahu. Aku mencintaimu…
Dan walupun kita terpisah jarak cintaku padamu tak akan pudar….

Your Love

***

Air mataku menetes semakin deras setelah aku menyelesaikan surat dari Zoya. Haruskah sampai disisni. Cintaku pupus sebelum aku sempat membinanya. Penyesalanku tak hentinya. Kenapa tak ku ungkapakan persaanku sejak lama. Tentu tak akan begini jadinya.
Meskipun samudera nan luas memisahkan cinta kami,aku akan selau menjaganya hingga suatu saat kita akan bersama.


note: ini cerpen perdana gw. gw buat karena tugas dari guru bahasa indonesia gw. dan ternyata gw ada bakat ding buat cerpen. dibuat Sekayu 25 Mei 2010. selamat membaca  :)

0 Komentar