Pedagang Roti Maryam Yang Lembut

sepagi ini aku berlari-lari di stasiun tugu jogja mengejar keberangkatan kereta menuju rumah. kenapa juga cuma ada satu kereta itu yang menuju rumahku. berangkatnya pagi pula. jadilah aku yang bangun kesiangan tak sempat menyumpal mulut cacing-cacingku.
biasanya saat menunggu di stasiun ada seorang bapak tua berseragam kuning oranye dengan kepala penuh ditumbuhi rambut putih menjajakan roti maryam. ah aku bisa saja sarapan dengan sepotong roti maryam yang lezat itu dengan sapaan pagi nan ramah dari penjualnya tentunya.
namun harapku pupus saat sampai di stasiun belum sampai aku menmukan tempat duduk, pengeras suara sudah mengumumkan keberangkatan keretaku. aku yang memabg sangat lapar menyapu sekeliling mencari penjual roti maryam itu. hingga keretaku sampai di depan muka tak kunjung kutemukan ia. dengan berat hati kulangkahkan kakiku masuk ke gerbong kereta.
di dalam kereta aku masih terpikir akan penjual roti maryam itu. kemana gerangan engkau pergi pak? sudah pindahkah engkau? atau sudah membuka kedai sehingga tak perlu berkeliling? atau kau sudah pensiun pak?
kuharap lain kali kita bertemu. roti maryammu itu sungguh empuk dan manis. seperti tutur perilakumu pak.
di dalam gerbong aku masih belum bisa tenang. rupanya cacing-cacingku menggelar unjuk rasa. :'(

Komentar

  1. Saya pernah mengalami hal sama. Ketika sesuatu yang telah menjadi rutinitas dan ada orang 2 sekitar yang kita hafal akan sangat berkurang ketika dia tak ada. Apalagi urusannya sama cacing pita hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. muehehehehe bagaimana jika cacingnya yang tidak ada? masih merasa kehilangan XD

      Hapus

Posting Komentar