Curug Muncar Curugnya Para Bidadari

Krapyak, 23 Agustus 2014
Keriuhan minggu pagi dari luar kamar membangunkan gue dari tidur pendek gue setelah semalam terpaksa harus begadang karena kemarin siangnya gue molor abadi yang menyebabkan ketidakbisatiduran di malam harinya. <~ kalimat rempong. Setelah mengucek mata alakadarnya gue ngecek jam di ponsel. Pukul 6:10 WIB. Refleks gue langsung berdiri dan lenyaplah semua kantuk yang tertinggal. Segera berlari ke depan kamar dan menyerukan sesuatu terhadap makhluk-makhluk yang tinggal di lantai dua.
“Woi kalian udah bangun kan? Kita berangkat lima menit lagi!” tandas gue.
“Iyaaa.” Mereka menjawab serempak tanpa memunculkan muka mereka ke gue.
Dengan kecepatan yang gue pinjem dari cahaya, gue segera melakukan rutinitas kamar mandi. Hanya cuci muka dan menggosok gigi. Iya enggak mandi.

$$$

Lempuyangan, 23 Agustus 2014
“Bersiap-siap di Jalur Dua. Kereta api Prameks dari Yogya tujuan Kutoarjo datang dari arah timur. Bersiap-siap di Jalur Dua. Kereta api Prameks dari Yogya tujuan Kutoarjo datang dari arah timur.” Suara mas-mas terdengar dari pengeras suara. Gue nggak tau jenis pekerjaan ini apa namanya? Ada yang tau gaes?
“Kereta api Prameks tujuan stasiun Wates, Jenar dan Kutoarjo akan segera diberangkatkan. Kereta api Prameks tujuan stasiun Wates, Jenar dan Kutoarjo akan segera diberangkatkan. “ masih suara mas-mas yang sama dari pengeras suara. Sementara gue, Khoir, dan Hanik sudah dengan manis duduk di dalam kereta.
Gue kembali mengecek jam di ponsel. Pukul 6:30 WIB. Sebenernya ini yang membuat gue bangun dengan kalap sebelumnya. Kareta yang akan membawa kami ke rumah gue (baca: Kutoarjo) berangkat tepat pukul 6:30 WIB. Dan butuh waktu 15 menit dari pondok pesantren di bilangan Krapyak (nb: gini-gini gue santriwati loh) ke stasiun Lempuyangan. Sedangkan gue baru kebangun pukul 6:10 WIB. Gue punya alasan kuat buat nggak mandi dong.

$$$

Krapyak, 19 Agustus 2014
Suasana kelas sedikit riuh, pasalnya ustadzah pengampu mata pelajaran Akhlak pada malam hari itu tidak datang. Setelah selama sedikitnnya 20 hari tidak bertemu karena liburan Idul Fitri, malam ini kita asyik masyuk bercengkerama.
“Men, gimana kalo kita ke rumah kamunya pas hari biasa aja. Sabtu atau Minggu gitu. Kalo pas lebaran kemaren kan kita di rumah masing-masing dan nggak tau jalan ke rumah kamu. Jadi nggak ketemu deh.” Tukas Hanik yang disambut anggukan kepala Khoir. Tanda setuju.
Hanik dan Khoir dan Imun sebetulnya, berjanji akan mengunjungi rumah gue saat lebaran. Namun karena kendala waktu dan mereka nggak tahu jalan ke rumah gue. Rencana itu batal. Hingga sekarang kami sudah aktif masuk madrasah di pondok.
“Ya bisa-bisa aja sih.” Jawab gue.
“Nggak usah nginep bisa kan kalo kita naik motor?”
Singkat kata akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke rumah gue weekend itu juga. Mengapa naik kereta? Ini diusulkan oleh Khoir yang konon katanya belum pernah naik kereta. Ciyan banget sih tu anak. (semoga dia ngak baca ini hehe)
$$$
Prameks, 23 Agustus 2014
“Di rumah gue tuh nggak ada apa-apa men. Nggak ada tempat wisata. Boring lah.” Gue membuka percakapan di dalam kereta.
“Nggak pa-pa kali. Kita kan cuma pengen liat rumah mu.”
“yakin nih nggak pa-pa kalo seharian di rumah gue nggak ngapa-ngapain?”
“iye nggak pa-pa.” Hanik meyakinkan.

$$$

Kutoarjo, 23 Agustus 2014
Kita sedang bersiap-siap menuju sebuah tempat antah berantah bernama Curug Muncar. Konon kata mbah Google, curug Muncar berada di kecamatan Bruno. Oke gue tau arah ke sana. Tapi gue nggak tau pasti seberapa jauh dan seberapa lama.
Berbekal insting petualang kami berempat, gue, Khoir, Hanik, dan Andaru (Andaru emang nggak berangkat ke sini bareng kita. Dia nyusulin naik motor dari Jogja). Kami pun berangkat dengan petunjuk jalan ala kadarnya dari bokap. Kalo kata sepupu gue mah “Selama kita punya mulut yang berfungsi, nggak bakal ada tuh kata nyasar”. Yup nanya jalan ke orang-orang. Hehe.
Loh katanya nggak mau kemana-mana sa? Sekarang mau kemana?
Haha kita kok nggak kemana-mana. Iya gitu. Pas di kereta kami mencoba browsing potensi wisata kabupaten Purworejo. Curug Muncar kita pilih setelah sepakat untuk nggak ke pantai-pantaian. Alasannya di Jogja banyak pantai. Kita juga nggak milih Goa Seplawan. Karena gue pernah kesana dan medannya lumayan sulit serta jaraknya jauh. Mustahil di tempuh dalam sehari tanpa nginep.
Setalah nanya-nanya jalan ke tetangga dan bokap. Di sinilah kita sekarang. Di jalan menuju kecamatan Bruno.

$$$


Bruno, 23 Agustus 2014
sekitar 1,5 jam akhirnya kita sampai TKP. eh tunggu dulu, TKP di sini bukan air terjunnya tapi baru sampai desanya coy. jalan masuk ke desa belum diaspal dan cuma menggunakan semen dengan dua ruas jalan dan yang tengahnya bolong. kayak batako tapi bukan. mana yang ditengahnya itu batu lancip-lancip. kanan kiri jalan jurang. nggak dalem sih tapi bisa bikin bonyok juga kalo keselip san jatuh. jalannya naik turun belak belok. khoir yang tadinya bonceng miring gue paksa duduk 'laki' walaupun beliau make rok. maap keun. 
dari jalan raya kita nggak masuk banget ke dalam desa kok. iya soalnya jalannya mentok gitu nggak bisa dilewatin motor. alhasil kita jala kaki.
setelah nitipin motor kita ke salah satu rumah penduduk kita lanjut ke arah curug dengan berjalan kaki. menurut keterangan warga butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai curug dengan berjalan kaki. 
weh jauh juga. karena daripada kentang akhirnya kita jalan juga. 
di jalan beberapa kali kita di pertemukan dengan persimpagan jalan. dan karena emang nggak ada plang yang menunjukkan arah ke curug dan tidak ada warga tempat bertanya. alhasil kita jalan make insting!
kita nggak ngitungin sih tepatnya berapa lama kita jalan kaki. semakin lama jalan yang kita tempuh semakin menanjak dan berkerikil. lana banget sampe akhirnya kita mendengar gemericik air. 
sponan kayak orang capek abis jalan kaki nanjak dan nemuin sumber air kita kalap dan lari ke arah suara. 
waaaaaaw ternyata kita sampai guys!
si khoir langsung tanpa babibu naik ke atas. gue dan andaru sengaha foto-foto dulu di bawah. heheh teteup!
hanik kemana? ihik ihik dia masih ngos-ngosan tuh :D
setelah vuas foto-foto kita naik juga deh nyusulin khoir. 
pada rencana awal kita cuma mau dateng dan liat air terjun. nggak ada tuh niat mandi-mandi. tapi mempertibangkan perjuangan kita untuk nyampe sini itu beyat banget. akhirnya kita mandi jugak!
mandi-mandi kayak bidadari :3
terakhir kita tutup ekspedisi kita dengan sellfieee 
sampai jumpa di petualangan yang berikutnya. babaaaaaay

ps: maaf banget kalo sampeyan ndak nyaman baca tulisan ini. maklum saya baru balik nulis setalah lama vakum. mana ini tulisan nggak diedit lagi. maapkeun :(

Komentar