Warning ini bukan postingan yang seperti biasa gue tulis. Ini merupakan postingan cerita agak sedih banget. Jadi gue ganti kata 'gue' jadi 'aku' boleh ya?

Malam makin larut. Setelah seharian beraktivitas di kampus, rasanya badanku sangat lelah. Mata pun makin berat untuk sekedar terbuka sempurna. Namun apalah daya, toh akhirnya tugas kampus merupakan Dewa yang mesti dituruti kehendaknya. Yaitu diselesaikan. 

Mencoba bersahabat dengan koneksi lemah provider langgananku aku tetap mencoba terhubung dengan teman-temanku di Facebook. Kami janjian untuk saling mengoreksi tugas kami. 

Beberapa menit berselang beranda Facebook ku menampilkan status salah seorang guru SMA ku. Sir D aku memanggilnya. Isinya antara lain adalah berita duka. Salah seorang adik kelasku dulu, meninggal dunia. Dia merupakan mahasiswi semester 3 Universitas Diponegoro. Kabarnya dia meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit setelah mengalami kecelakaan. 



Memoriku berputar. Tidak banyak memang kenangan tentang almarhumah dalam memoriku. Kami hanya sebatas kenal, dan tidak terlampau akrab. Aku mengenalnya karena dia merupakan siswi aktif dan kreatif semasa SMA dulu. Dan karena dia merupakan teman akrabnya teman akrabku. Kami memanggilnya Kiki. 

Suasana hatiku langsung berubah. Serasa 'dipukul' (diingatkan) oleh Allah SWT. Bahwa memang ajal-lah yang paling dekat denganku. Dengan kita semua. Manusia. 

Akhir-akhir ini memang sering terpikir olehku. Bagaimana jikalau aku mati muda? Sudah siapkah bekalku? Bekal apa lagi kalau bukan amal ibadah. Betul aku selalu menganggap ajalku masih nanti. Ibadah pun masih sering kupending. Padahal kalaupun ajal akan datang padaku esok, tidak mungkin bisa kupending.  

Dari sini aku semakin yakin, bahwa ajal itu memang dekat. Dekat sekali. Lalu siapalah aku berani sekali mempending urusan ibadah? 

Semoga aku, kamu (jodohku) bisa ketemu #lahsalahfokus kita semua bisa memetik hikmah dari kejadian ini. Dan semoga almarhumah tenang disisi-Nya.

Khususon ila ruhi Oktovia Rezki Nurhanafiah,

Al Fatihah....


PS: Aku nggak bisa ngebayangin betapa sedihnya Kaka (saudara kembar Kiki) dan keluarganya. Semoga mereka tabah. Amin! 



2 Komentar

  1. salah satu sentilan untuk kita, manusia. agar bisa selalu taat dan melakukan yang terbaik :)
    betapa kematian begitu dekat dan bisa menghampiri kapan saja.

    BalasHapus
  2. semoga ia diterima disisi Tuhan ya

    BalasHapus