sekapal bedua doang sama a'a Junot. gue sih nggak nolak. tapi emang mau ngajakin gue? :(  source
Sejak pertama kali diumumkan kalau Supernova Ksatria Putri dan Bintang Jatuh akan difilmkan gue dan sohib baca buku Dee gue: Widia, langsung mengikrarkan diri untuk nonton. Bahkan pada hari pertama tayang.

Akhirnya setelah penantian sekian bulan sekian minggu sekian hari. Kemarin 11 Desember 2014 pukul 14:10 WIB gue dan beberapa sohib nonton gue (sama Widia juga) duduk di salah satu kursi penonton di bioskop Empire XXI Yogyakarta.

Selama kurang lebih dua jam gue berperan sebagai penonton. Tapi lebih tepatnya pengamat. Bisa dibilang cuma menikmat sebagian aja dari film itu selebihnya gue menganalisis bukan murni nonton.

Jadi gini, ceritanya gue mau ngereview film ini. Jarang terjadi kan, walaupun gue lumayan sering nonton tapi gak pernah yang namanya ngereview. Nah berhubung gue cinta banget sama serial novel Supernova ini, gue harus berpendapat.

Berbagai ekpektasi mulai bermumculan sejak release-nya trailer Supernova yang pertama. Nah kan cuma sound sama potongan-potongan beberapa scene tapi tanpa conversation tuh. Ya gue cuma bisa menilai sound dan cinematography-nya kan ya. Bagus. Awam mengenai musik dan cinematography gue menganggapnya bagus. Dan ekspektasi gue tentang film ini naik. Gue pikir "Weuggh pasti keren bangetlah ini film. Ga bakal mengecewakan lah ya. At least kayak Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck lah". Ekspektasi pertama.

Ekspektasi kedua muncul beriringan dengan release-nya trailer kedua. Beberapa scene ditamppilkan dengan durasi lebih lama dan lebih clear berikut dengan conversation aktor-aktornya. Gue sih masih berekspektasi bagus. Apalagi ngeliat aktor yang main semacam Herjunot Ali dan Raline Shah yang jelas-jelas gue udah pernah nonton film terdahulu mereka dan akting mereka oke kok. And I decided to not miss this one too. Walaupun ada sedikit kecurigaan muncul dari trailer yang kedua ini.

Sejak pertama kali pengenalan aktor pemeran Supernova banyak yang berkomentar "kenapa aktornya itu-itu aja sih?" Ya mungkin karena mereka emang lagi naik daun aja, jadi laku. Gue pribadi sih oke-oke aja. Karena ya gue emang cinta banget sama Zainudin a.k.a Juple a.k.a Junot.

Setelah akhirnya berkesempatan nonton filmnya ada beberapa catatan, dan beberapa hal yang megganjal di hati. Kita list aja ya.

Di awal film bakal ada cewek yang sedang menarasikan, atau cuma baca doang gitu lah. Sumpah monoton abis cara dia baca narasi. Belakang gue tahu ternyata  dia adalah Bintang Jatuh kita, Paula Verhoeven. Well gue nggak tau kenapa mereka pilih Paula, yang jelas dari film ini kelihatan banget kalau do'i tuh new comer. Dan kayaknya akting tuh bukan bidang dia banget (fyi dia adalah seorang foto model). Sesuai sih sama karakter Diva di Supernova, seorang supermodel. Tapi menurut temen gue sebagai supermodel yang juga berkerja sebagai pelacur, Paula kurang seksi.

Dari awal juga udah mulai gak sreg dengan pasangan homo kita. Dimas dan Reuben. Menurut gue percakapan yang terjadi di antara mereka harusnya bisa sounds lebih scientific lagi. Entahlah mereka di film ini tuh tetep keliahatan kayak homo pada umumnya. Istimewanya mereka tuh nggak kelihatan. Selain itu di awal-awal film udah ada adegan yang nggak sesuai, beberapa adegan yang harusnya penonton tetep nanggepin serius malah pada ketawa. I don't really know kalo emang tujuannya ke sana. Banyak adegan mereka yang diilangin, buat gue yang udah baca bukunya sih oke-oke aja. Nah buat mereka yang belum baca? Ngebingungin. (iya emang ngebingungin sih kalo belum baca)

Dan gue juga salah ekspektasi mengenai acting pemeran-pemeran utama di film ini. Gue pikir karena di film mereka yang sebelumnya mereka sukses abis, jadi bakal terulang di film ini.  Nyatanya (di mata gue) akting mereka serba gak pas. Junot yang gue tau keren banget berperan sebagai pujangga, di film ini tuh sisi Ksatrianya nggak dapet. Dan ada banget scene yang harusnya dia bener-bener depresi ketika Rana berteleponan dengan Arwin, tapi nggak diliatin. Efek sakit hatinya tuh kurang dalem.

Untuk Rana, sama sih komentarnya kayak Diva. Beberapa dialog dalam hatinya yang seharusnya lebih puitis da menyayat malah jadi aneh dan nggak berkarakter. Malah ada yang sampe ketawa padahal itu harusnya ngebawa penonton jadi sedih.

Overall aku paling suka bagian Arwin malah. Dari awal udah nungguin bagian ketika dia merelakan Rana buat Ferre. Dan scene itu nggak mengecewakan. Good job Mas Arwin, kalo Rana nggak mau dienakin sama kamu, aku mau kok. :3

Bahas Paula lagi yuk. Postur tubuh Paula sendiri terlalu tinggi, jadi keliatan banget cengklaknya pas dia lagi hadap-hadapan sama Ferre. Selain itu kan kudunya ada scene dimana Ferre meluk Diva dari belakang, tapi diilangin. Gue mikirnya iyalah diilangin, masa ntar muka Junot ketutupan bahunya Paula, kan nggak lucu. Selain itu cara ngomong Paula sebagai Diva di sinim kurang tegas banget. Dan cara dia berbicara sebagai BIntang Jatuh (ada kan yang scene dia ngamatin Ferre dari jendela) itu intonasinya ngak pas. Banyak juga yang bilang kalau dia ngebawain narasinya juga monoton. Body languangenya dia, mimik mukany serba kurang memadai sebagai Diva. Kuraaaaang aja gitu. Bad luck, Paula. 

Dari pertengahan film gue mulai nunggu kemunculan Gio. Dan sampai terakhir pun ternyata Gio ngak muncul. And this is disappoint me so much. Kecurigaan mengenai Gio udah muncul sejak nonton trailer kedua sih. Iya gitu kok sama sekali ngak ada nyinggung-nyinggung Gio. Dari pengenalan pemeran juga. Padahal Gio tuh juga memegang peranan penting dalam cerita Supernova itu sendiri. Tapi kok malah gak ada? Dan ini ngefek ke ending cerita.

Dari seluruh rangkaian film ini bener-bener ending yang bikin gue nggak ngerti. Yups karena emang banyak perubahan yang terjadi di ending. Dan perubahan yang menurut gue nggak menyenangkan. 

Nah dari sekian banyak kekecewaan gue masih ada yang bisa dibanggain kok dari film ini. Kayak pemilihan lokasi syuting. Kalo emang ada pseudo Jakarta, that will be like that. Selain itu efek-efek visualnya juga keren. Paling sukak sih pas scene Ferre nembakin pistol ke mulutnya trus jatuh ke lantai tapi ternyata tembus ke suatu tempat entah di mana itu. Efek audionya juga juara. 

Nah gitu sih kalo dari sudut pandang gue. Saran aja kalo mau nonton film ini mending baca dulu, daripada bengong nggak karuan di dalem bioskop. Kata temen gue aja 'Bahasanya terlalu berat.' lah dia belum baca wajar bilang gitu. Gue yang udah baca aja belum sepenuhnya ngerti. 

Demikianlah tulisan acak-acakan saya tentang Supernova Movie. Maafkan saya yang terlalu banyak mengkomparasikan film dengan bukunya. Yang jelas-jelas berbeda satu sama lain. Maklumilah saya yang terlalu mencintai membaca ini. Maafkan juga kalau ada yang kurang tepat dengan penilaian saya. Maklumilah bidang saya bukan di sini (bisa mengkritik film ini aja tuh karena gue cinta banget sama bukunya). 

Sekian dan terima aja nasib kalian jadi jomblo.

idih di sini cakep banget. di TKVDW cakep juga. jadi abang Juple cakep. ngapa di sini kamu kurang sih bang? :(  source
gantengan kamu di The Rad 2 deh. di sini jadi homo sih. source

tumben emang gue nongton rame-rame gini. biasanya mentok-mentok berdua. 





3 Komentar