Setumpuk Surat dan Luapan Kasih Sayang

Rumah saya. Rumah mama piara saya selama di Letvuan, Kei Kecil menjadi semakin ramai menjelang kepulangan saya kembali ke Yogya. Anak-anak yang selama ini menjadi teman saya bermain dan melakukan kegiatan apapun datang silih berganti mengantar surat. Surat miliknya sendiri, pun tanpa sungkan menjadi petugas pos bagi teman mereka yang malu memberikan surat langsung. Penerimanya, saya dan teman satu rumah saya.

Kami menerima begitu banyak surat. Bahkan sampai hari H kepulangan kami, surat masih berdatangan.

Isinya bermacam-macam, tetapi seragam. Hampir semuanya berpesan agak saya tidak pernah melupakan mereka, tidak boleh melupakan Letvuan. Lalu bertanya kapan saya akan kembali (bahkan sebelum saya pergi). Mereka tanpa canggung mengungkapkan perasan mereka, berkata sayang dan cinta. Mereka jug tidak segan memuji dan menyanjung. Jika sekiranya memiliki salah mereka tidak enggan meminta maaf. Mereka berterimakasih padahal saya tidak memberi apapun, kecuali kasih sayang.

Beberapa menyertakan kenang-kenangan; gelang, pin, boneka, dompet, kerang, dll. Bukan barang mewah memang, tapi itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa memang mereka menyayagi saya. Bahwa kasih sayang saya terhdap mereka terbalaskan. Tidak bertepuk sebelah tangan.

Romantisme mereka, bahkan melebih penyair manapun, setidaknya bagi saya.

Hampir semua surat saya terima mendekati hari kepulangan, tetapi satu orang anak mengirimkan suratnya jauh hari (sekitar H-dua minggu kepulangan saya), yakni sebelum dia bertanding pada turnamen futsal junior untuk memperingati hari kemerdekaan (salah satu program KKN kami). Namanya Sumo. Begini suratnya:



Kalau tidak salah hitung, sampai saya pulang Sumo mengirim setidaknya lima surat. 
Ini adalah beberapa suratlainnya:
























Dan berikut merupakan balasan saya untuk mereka. Tidak saya kirimkan. Saya tulis baru saja kemarin.

Sebelumnya selama saya berada di sana saya membalas surat untuk satu orang yang menurut saya suratnya adalah surat terbaik. Ini dia suratnya:
Selama di sana saya juga mengirimkan beberapa surat untuk beberapa anak yang paling spesial bagi saya. Ada tiga 

Tidak semua surat yang saya terima saya upload di sini. Tetapi semunya saya kliping rapi dalam sebuah buku:


Sebisa mungkin ingin saya abadikan kenangan indah. Sekecil mungkin. 


Komentar