Bulan Januari akan berakhir dalam 72 jam ke depan. To be honest, gw pengen nulis postingan ini awal bulan lalu, tapi... ya sudahlah gw tulis sekarang aja udah untung hehe (at least i write it). Its about reading books.

Gw membaca blog Bernard Batubara mengenai kalender membaca selama satu tahun. Dan gw tertarik untuk membuat kalender membaca gw sendiri. Yang pada akhirnya buku-buku yang pengen ge baca masih terinspirasi dari buku-buku yang pengen dan pernah Mas Bernard baca. Peraturannya begini: awal tahun gw akan menentukan 12 buku yang akan dan harus gw baca selama satu tahun ke depan. Masing-masing minimal 1 buku setiap bulannya, syukur kalau bisa lebih. Setiap selesai membaca gw akan membuat catatan mengenai buku tersebut, gw usahakan untuk menulisnya di sini.

Singkatnya ini dia kalender membaca 2017 gw:



Selama bulan Januari ini gw hampir berhasil menyelesaikan 1 buku. Dan sekalian akan gw ulas di postingan ini. Buku yang gw baca tersebut adalah Arabian Nights  Kisah 1001 Malam,  yang diterjemahkan oleh Husain Haddawy. Buku tersebut berisi 700 halaman dan gw udah membaca sebanyak 456 halaman. Dan gw rasa gw nggak akan menyelesaikan buku ini sekarang. 

Gw bukan orang yang selalu menyelesaikan buku yang gw baca, kadang-kadang gw tinggalin juga di tengah-tengah. Kapan-kapan gw ceritain kenapa. Untuk buku Arabian Nights  sendiri kenapa nggak selesai gw baca adalah karena terlalu panjang. Padahal ceritanya nggak sampai 1001 malam loh cuma ada 271 malam. Gw nggak masalah sih baca cerita panjang atau buku yang super tebal (gw udah baca Inferno, Dunia Shopie). Tetapi kalau buku itu hanya menceriatkan satu kisah dan berkelanjutan, tidak seperti buku ini yang memuat banyak certa dan menurut saya cerita-ceritanya seragam. Jadi rada bosen gitu. 

Menurut pendahuluan yang tertulis di awal buku, kisah-kisah yang ada di buku ini sudah mengalami banyak perubahan. Hal ini wajar terjadi mengingat latar waktu terjadinya kisah berkisar antara tahun 600-700 M, di mana budaya literasi belum menjadi kebiasaan (tidak ada dokumen tertulis). Jadi ceritas hanya mengalir dari mulut ke telinga. Meskipun demikian taste Timur Tengah nya masih kental terasa. Baik latar tempat dan budaya. Dari buku ini juga saya banyak menambah peengetahuan mengenai sejarah dan geografi tentang negara-negara di Timur Tengah tempat terjadinya kisah. 

Sejujurnya buku ini sedikit berbeda dari buku Kisah 1001 Malam yang pernah gw baca ketika masih kecil. Dulu yang gw tahu mengenai 1001 malam hanya melulu Abu Nawas. Namun di buku ini sama sekali tidak ada kisah mengenai Abu Nawas. Gw yakin semua orng pasti pernah mendengar kisah Abu Nawas paling tidak sekali seumur hidupnya. Bedanya dengan kisah Anu Nawar yang penuh dengan humor, buku ini tidak hanya menyuguhkan humor, tetapi juga cerita cinta, persaudaraan, kasih sayang orang tua, perkonomian, politik, dan lain-lain. 

Dan sisa halaman yang  belum gw baca, gw simpan dulu sampai nanti ada waktu untuk membaca lagi. Sekarang waktunya untuk move on ke buku di bulan Februari yakni  Gempa Waktu  nya Kurt Vonnegut. I've never read his books before. 


Ngomong-ngomong soal bulan Januari, tepat  tiga hari yang lalu saya resmi berusia 22 tahun. Yas! Sudah terbilang matang untuk membina rumah tangga. Walau kenyataannya gelar S1 saja gw belum punya, boro-boro mau dapet gelar S3 (estri//istri). Tidak Tidak! Gw belum ngebet ingin menikah kok. Calon juga belum ada. wkwkwk. 

Akhir-akhir ini gw menyadari beberapa hal, pertama, betapa gw harus tetap semangat mengerjakan penelitian dan mengejar gelar S. P. Beberapa hal mengenai penelitian gw mengalami kemajuan, dan gw harus tetap bergerak maju. Kedua, betapa sudah sekali mendapatkan gelar S1 ini membuat saya ingin melanjutkan ke jenjan S2 untuk semakin memperdalam ilmu ini. Supaya ilmu yang gw dapat di S1 nggak sia-sia. Ketiga, betapa banyak sekali hal yang mestinya gw syukuri dan itu akan membuat gw bahagia, seperti keluarga yang selalu sayang sama gw, temen seperjuangan yang selalu siap membantu, dan lingkungan hidup yang baik dan menunjang gw untuk berbuat yang baik-baik aja. 

Maka dari itu, mulai sekarang mikir dua kali deh kalo mau bersedih. 




1 Komentar