Rasa penasaran saya terhadap film ini mulai timbul saat sang sutradara, Joko Anwar, membagikan reaksi para penonton Pengabdi Setan di akun twitternya. Di dalam video singkat tersebut terekam beragam reaksi penonton yang lucu-lucu, yakni dari mulai menutup muka menggunakan selimut (hahaha antisipasi banget kan dia sampai bawa selimut segala) hingga saking ketakutannya ada yang sampai sisiran. Iya sisiran!

Awalnya saya agak skeptis dengan Pengabdi Setan ini, ya know lah film horor Indonesia selama ini seperti apa? Tapi ketika mendengar bahwa film ini adalah remake dari film dengan judul yang sama di tahun 1980, harapan saya mulai muncul. Memang tidak banyak yang saya tahu tentang film horor tahun 80-an, ya wong lahir saja belum, yang saya tahu cuma Susana. Everybody know lah ya how creepy she is, dan film-film yang dibintanginya juga seram pada zamannya. Jadi harapannya film Pengabdi Setan ini akan berbeda dari film-film horor dewasa ini.

Setelah dihantui rasa penasaran selama beberapa hari terakhir, akhirnya saya bisa menonton Pengabdi Setan di hari pertama pemutarannya di bioskop. Alhamdulillah. Dan ya mari jump to the review.

Film ini mengisahkan sebuah keluarga bahagia yang mulai menderita sejak ibu mereka jatuh sakit. Setelah tiga tahun terbaring, ibu akhirnya meninggal dengan cara yang aneh. Setelah kepergian ibu, ayah menutuskan untuk mencari nafkah ke kota. Namun ternyata setelah kepergian ayah, ibu datang! Ibu datang bukan untuk menjenguk, tapi untuk menjemput!

Selama nonton film ini tangan saya nggak pernah jauh-jauh dari wajah, ya antisipasi saja kalau-kalau ternyata dibutuhkan untuk menutup mata. Sensasi tegang sudah sangat terasa dari detik pertama film ini diputar. Scene-scene menyeramkan disajikan secara bertahap, sedikit-sedikit hingga makin lama makin intens. Namun justru ketika adegan seram sedang instens-intensnya, rasa takut saya sudah hilang. Seperti sudah terbiasa.

Penggunaan properti-properti khas film horor seperti cermin, sumur, tangga, jendela, hingga kursi roda terbang sukses menciptakan kesan creepy. Yang saya suka adalah porsi mereka yang pas, tidak terlalu banyak hingga membuat bosan. Selain itu film ini juga punya cirinya sendiri yakni lonceng dan sisir. Jika selama ini kita pikir lonceng hanya ada di sekolahan atau di gereja, maka setelah menonton film ini kalian akan melihat lonceng dari sudut pandang yang berbeda.

Pengabdi Setan juga menyajikan adegan-adegan lucu sebagai hiburan sesaat penonton, untuk kemudian dikejutkan lagi. Asyik!

Walaupun Pengabdi Setan ini merupakan film horor, namun kesan dramanya juga sangat kuat. Cerita yang ada membuat penonton hanyut dan ikut berempati pada tokoh. Kita tidak hanya disuguhi adegan-adegan yang bikin jantung olahraga, tetapi juga cerita yang bikin terbawa perasaan.

Tapi yang menurut saya kurang adil adalah mengapa justru korban yang jatuh bukan dari anggota keluarga?

Oh iya. Di akhir film ini akan ada kejutan yang lebih mengejutkan daripada hantu. Terkejut banget deh pokoknya. :)

Nonton atau tidak? Nonton!

Kalau kamu penikmat horor sih harus banget nonton, ini nggak kalah bagus dari The Conjuring sekalipun. Dan kalau kamu bukan penikmat horor, harus tetap nonton sih. Supaya apa? Supaya makin ketakutan. Hihihi.




2 Komentar

  1. Udah nonton film ini. Seremmm, tapi pengen nonton lagi hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. di awal2 emang serem, makin ke belakang mulai terbiasa sama ibu..

      Hapus