Sedari kecil saya memang sudah senang membaca buku. Meskipun sekolah dasar saya dulu tidak mempunyai perpustakaan, pun di desa tempat saya tinggal tidak ada toko buku, saya seperti tidak pernah kehabisan bahan bacaan. Saya baca apa saja yang ada di lemari di rumah. Entah buku milik siapa, mungkin milik kakak saya.

Salah dua buku yang paling saya ingat adalah buku tentang astronot (ini mengapa dulu saya bercita-cita menjadi astonot) dan buku tenang gadis kecil yang menjajakan kerupuk untuk membantu orang tuanya. Entah milik siapa, tapi dulu saya sering membaca buku serial silat seperti Wiro Sableng, serial komik yang pertama saya baca mungkin adalah Petruk dan teman-temannya. Parahnya, dulu saya bahkan membaca novel-novel dewasa karangan Khalil Gibran.

Ketika di desa saya akhirnya ada pasar minggu (hanya buka di hari minggu), kakak saya sering membelikan majalah Bobo untuk anaknya (keponakan saya yang seumuran dengan saya). Tentu saya harus menunggu keponakan saya lengah, lalu kemudian majalah Bobo tersebut saya gondol dan bawa pulang. Kunci pintu kamar dan membaca dengan damai. Tidak hanya majalah Bobo yang saya baca, majalah Kartini milik kakak saya pun tak luput. Lagi-lagi saya membaca serial dewasa seperti Oh Mama Oh Papa.

Hingga akhirnya saya berkenalan dengan Lima Sekawan di perpustakaan SMP. Sayangnya perpustakaan saya tidak memiliki koleksi lengkap buku karangan Enid Blyton tersebut. Serial detektif memang memiliki ruang tersendiri di hati saya. Salah satu komik detektif yang paling saya sukai kala itu adalah Dan's Detective School, sayangnya sekarang saya sudah tidak bisa menemukan komik itu di toko-toko buku.

Selaras dengan gelora jiwa remaja saya saat itu, saya beralih dari membaca majalah Bobo ke majalah Aneka Yess! (sayangnya sekarang sudah tidak terbit lagi). Saya bisa dibilang cukup jarang membeli majalah. Kalau tidak membaca di rumah teman ya di perpustakaan. Menariknya di perpustakaan juga tersedia majalah komik. Meski tidak pernah diupdate, tapi di sana ada beberapa edisi yang lumayan nyambung kalau dibaca. Pun kalau tidak nyambung, saya tidak peduli. Bisa membaca dan punya bacaan saja sudah merupakan kebahagiaan bagi saya.

Perpustakaan SMA saya jauh lebih besar dan lebih lengkap koleksinya. Di sini saya melanjutkan membaca Lima Sekawan yang belum pernah saya baca, bahkan mengulang beberapa yang pernah saya baca. Serial detektif masih menjadi kegemaran saya. Hingga saya akhirnya bertemu dengan penulis-penulis seperti Dan Brown dan Agatha Christie.

Lagi-lagi gelora jiwa muda saya menuntun saya membaca novel dan teenlit dengan genre romance. Novel romance  ini masih saya baca hingga semester awal kuliah. Saya membaca Ika Natasha, Tere Liye, Ilana Tan, AliaZalea, Winna Efendi, dan lain-lain. Selain novel romance saya juga tertarik untuk membaca buku-buku agama. Tapi sejauh ini saya baru membaca karya-karya Quraish Shihab. Selain itu saya juga suka membaca buku perjalanan seperti milik Trinity Traveller. Buku puisi tak luput saya baca, pasangan penyair favorit saya dulu adalah Rahne Putri dan Zarry Hendrik dengan buku mereka Sadgenic dan Dear Zarry's. Hingga buku-buku puisi miliki Lang Leav, Aan Mansyur, Adi Model dan tentunya buku puisi legenda bapak puisi kita Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni.


Selera saya terhadap buku akhirnya membelot ke arah novel-novel sastra setelah membaca Cantik Itu Luka. Itulah saat saya mulai jatuh cinta dengan karya-karya Eka Kurniawan. Kemudian saya lanjutkan membaca Corat-Coret di Toilet, Manusia Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, dan O.

Hingga sekarang saya lebih suka membaca novel sastra dengan latar belakang sejarah yang kuat. Dengan kata lain, saya tidak hanya ingin menikmati kisah yang disampaikan oleh penulis, tetapi saya ini betul-betul merasakan kenyataan kisah itu. Dan menurut saya itu dapat dicapai dengan bukti-bukti sejarah yang memang ada.

Saya juga mencoba untuk membaca novel dalam Bahasa Inggris. Beberapa berhasil saya selesaikan, sementara beberapa yang terlalu tebal dan tergolong ke dalam sastra lama tidak mampu saya selesaikan. Membaca novel dalam Bahasa Inggris menurut saya selain memperkaya khazanah bahasa kita juga membantu kita untuk lebih mengerti apa yang disampaikan oleh penulis. Karena sebaik apapun buku penerjemah menerjemahkan buku, akan selalu ada rasa yang hilang ketika proses menerjemahkan.

Tetapi meskipun demikian saya merupakan penggemar buku terjemahan juga. Favorit saya adalah buku-buku karya Jostein Gaarder. Penulis asal Norwegia itu berhasil membuat saya jatuh cinta sejak saya membaca Dunia Shopie. Gaya berceritanya, melalui surat menyurat, menjadi karakter unik yang saya sukai. Bukunya yang lain yang juga sangat apik digarap dengan metode surat menyurat adalah Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.

Selain Eka Kurniawan, Dee Lestari adalah penulis Indonesia yang saya ikuti buku-bukunya. Tentu saja adalah serial Supernova yang fenomenal itu. Sebuah karya sci-fi yang spektakuler. Di Indonesia penulis dengan genre sci-fi ini bisa dibilang masih sangat minim. Tokoh-tokoh pada serial Supernova terasa begitu nyata bagi saya. Menurut penuturan Dee sendiri, ia mencoba untuk sebaik mungkin memposisikan dirinya sebagai tokoh di bukunya. Tak pelak jika ia sedang menulis, ia bisa "bersemedi" selama berhari-hari.

Kegemaran saya membaca inilah yang kemudian menjadi pemantik saya untuk menulis. Dulu ketika SMA, guru saya mewajibkan untuk menulis cerpen. Saya kerjakan tugas tersebut dengan sepenuh hati. Beberapa minggu kemudian, saya mendapati cerpen tersebut dimuat oleh koran lokal. Tak pelak hal tersebut membuat saya bahagia. Ternyata guru saya tersebut dengan diam-diam mengirimkan cerpen saya.

Menulis bagi saya adalah hobi yang sulit. Diperlukan sebuah ketekunan untuk bisa menulis dengan baik. Hobi ini membawa saya kepada berbagai seminar kepenulisan ketika saya kuliah. Salah satunya adalah Kampus Fiksi yang diadakan oleh penerbit Diva Press. Sayangnya cerpen saya tidak lulus seleksi. Kesibukan kuliah kemudian mengubur konsistensi saya dalam menulis. Hingga akhirnya sekarang saya mempunyai tekad untuk kembali menulis. Yaitu dengan menulis di blog.

Buku bagi saya adalah harta yang berharga. Hingga membuat saya adalah orang yang pelit. Saya tidak sembarang meminjamkan buku kepada orang. Hal ini dikarenakan suatu pengalaman pahit yang saya alami. Saat itu teman saya meminjam buku Dunia Shopie yang saya beli dengan uang hasil menabung. Harganya pun tidak murah, saya ingat sekali saya membelinya di Gramedia dengan harga Rp 99.000,00. Buku tersebut hingga kini belum dikembalikan oleh teman saya itu. Berkali-kali saya mencoba menagihnya tetapi dia selalu mengelak. Hingga saya sampai pada titik pasrah.

Karena buku merupakan benda yang rapuh, saya sangat hati-hati dalam memperlakukannya. Saya tidak pernah melipat halaman buku apalagi mencoretnya, kecuali untuk keperluan memberi nama. Saya selalu mengingatkan peminjam buku saya tentang dua hal tersebut. Saya juga selalu melakukan hal yang sama terhadap buku yang saya pinjam.

Saya melalukan hal tersebut semata karena saya berharap dengan demikian buku saya dapat memiliki umur yang panjang. Suatu saat saya ingin memiliki perpustakaan pribadi untuk kemudian saya wariskan ke anak cucu saya kelak. Saya ingin generasi penerus saya nanti memiliki bacaan yang bagus sedari mereka masih kecil.

foto: pinterest

2 Komentar

  1. Sama mbak, aku juga hati-hati banget ngerawat buku. Gak pernah aku lipet, kalau ada yg gak sengaja kelipet jadi jengkel sendiri rasanya :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss! Apalagi kalau yang terlipat sampulnya, seperti merasa berdosa besar :')

      Hapus