Siapa yang nggak mau jalan-jalan (mewah) dengan modal minim. Nah jalan-jalan saya ke bandung akhir Agustus lalu bisa dikatakan jalan-jalan mewah, tapi dalam berbagai hal juga bisa dikatakan jalan-jalan miskin. Penasaran? Harus dong!

Dengan modal hanya 350 ribu rupiah saja, saya bisa traveling dari Jogja ke Garut kemudian ke Bandung lalu pulang lagi ke Jogja. Budget super minim itu sudah mencakup transportasi, makan, menginap, masuk tempat wisata bahkan jajan loh. Mau tau dong gimana caranya? Harus mau tau!

Untuk bisa traveling dengan dana minimal kalian bisa lalukan seperti yang saya lakukan. Walaupun sudah pasti banyak cara lain, tapi cara saya patut untuk dicoba. Langsung aja yuk kita bahas satu per satu.

1. Travel buddies
Yang satu ini hukumnya wajib. Eh atau sunnah ya. Ya  pokoknya kalau berdasarkan pengalaman saya, punya travel buddies itu penting banget. Makin banyak teman jalan, makin murah jadinya. Karena kemarin saya dan teman-teman menyewa mobil, jadi makin banyak yang ikut makin sedikit iuran yang dibebankan per orang. Tapi meski kita harus punya travel buddies sebanyak-banyaknya, tetap ada jumlah maksimalnya dong. Tergantung jenis mobil yang  disewa. Kalau kemarin saya dan teman-teman sewa Avanza. Kuota mobil Avanza sendiri maksimal 8 orang, jadi karena kami semua yang akan pergi traveling itu cewek dan nggak bisa nyetir sendiri, kami batasi maksimal 6 orang dengan 2 orang supir. Dua supir karena kami akan jalan lumayan jauh, lama (2x48 jam) dan padat.  Untuk ongkosnya sendiri adalah 300 ribu/24 jam. Dengan denda keterlambatan 20 ribu/jam.

2. Supir rasa teman
Akan sangat berguna kalau kalian punya teman yang bisa nyupir, jadi nggak perlu bayar supir! Untuk kasus saya kemarin, memang supirnya bukan teman kami. Eh ya anggaplah teman ya, karena kita memiliki status yang sama: santri. Mereka berdua kebetulan memang biasa nyupirin santriwati cewek, kalau ada undangan ke luar kota. Karena sama-sama santri bisalah harga nego hahaha. Pintar-pintar kita juga supaya bisa akrab sama mereka, jadi supir rasa teman gitu. Untuk ongkos supir, kami menggelontorkan dana sebanyak 250 ribu/2 orang/ 24 jam. Tega banget kan?! Atau nggak? Saya nggak tahu sih standar bayar supir tuh berapa? Ya nggak tega-tega banget lah, kan makan sama masuk tempat wisata kita yang bayarin. Dan karena sudah berteman, jadi nggak sungkan. 

meet the drivers (kiri, nauval. kanan, mas wahid). kalau butuh driver hubungi aja mereka.

3. Mampir ke rumah teman
Karena memang tujuan utama perjalan kami adalah kondangan, otomatis kami mampir ke rumah teman. Nah rumah teman kami yang menikah itu di Garut. Jadi sebenarnya kami ke Garut tidak wisata, tapi ke resepsi pernikahan teman. Lalu kami pikir sayang sekali sudah sampai Garut tapi nggak wisata. Akhirnya kami memutuskan untuk lanjut ke Bandung. Di Bandung kami juga mampir ke kosan teman, supaya dapat menginap gratis. Kalau ada saudara juga bisa banget tuh. Pulangnya, kami mampir lagi ke rumah teman di Majenang.

Mampir rumah teman ini banyak sekali manfaatnya loh. Kita bisa numpang istirahat, mandi, makan, dan bahkan bisa dikasih ongkos juga. Alhamdulillah ketika mampir di Garut kami dapat subsidi 200 ribu dan sang manten. Bukan cuma itu, kami bahkan dengan tidak tahu malu minta bekal buat makan malam di Bandung. Inilah guna teman ya. Ketika mampir di Majenang juga, kita bela-belain untuk nggak makan di jalan dan makan di rumah teman kami itu. 

Kira-kira tiga hal di atas itulah yang membuat perjalanan ini menjadi sangat minim dana. Supaya nggak bingung saya akan ceritakan kronologi dan rute perjalanan, sekaligus rincian dananya. Stay tune!

Kami berangkat minggu malam dari Jogja, dengan perkiraan paginya kami akan tiba di Garut dan langsung kondangan. Sebetulnya kami sudah sampai Garut sekitar pukul 6 pagi, terima kasih kepada Google Maps kita malah jadi jalan-jalan a.k.a kesasar dulu, dan baru sampai ke lokasi resepsi pukul 10 pagi. Udah mau kelar boss! 

Selepas ashar kami lanjutkan perjalanan ke Bandung. Sesuai perkiraan, kami sampai bandung selepas maghrib lalu langsung menuju Ciwalk atau Cihampelas Walk. Setahu saya, tahun 2011 dulu belum ada sih si Ciwalk ini. Dan jalan Cihampelas pun sekarang sudah di tata, nggak ada lagi tuh yang menggelar lapak di pinggir jalan. Semua sudah dilokalisasikan di atas jalan. Lah kok? Iya jadi semacam jembatan penyebrangan gitu. Sayangnya kemarin malah saya dan teman-teman nggak mampir ke situ. Bukan apa-apa. kami takut kepengen beli-beli. Lha wong di Ciwalk aja kami nggak beli apa-apa, cuma lihat lihat dan foto-foto. hehehe (sobat qizmin)



Setelah jalan mengelilingi Ciwalk kami lanjutkan perjalanan ke Alun Alun Alun kota Bandung. Di sini kami makan bekal hasil malak di tempat resepsi. Hehehe. Tahun 2015 lalu ke sini pas siang hari, dan ternyata enakan ke sini malam hari. Karena ada rumput jadi-jadian yang bisa dipakai untuk duduk-duduk dan tiduran. Lumayan lah untuk melepas lelah. Selain kami juga banyak wisatawan lain yang ke sini bersama keluarga mereka. Anak-anak asyik bermain bola dan berlarian. Waktu saya mau nimbrung, eh malah pada nangis. Hvft. Apa salah dan dosaku sayang~



kalau bukan supir rasa teman, mana mungkin bisa foto bareng gini? 

Sisa malam kita (cewek-cewek) habiskan dengan menumpang di kosan teman. Di dekat kampus UPI, Lembang. Pas sekali karena kami memang ingin berwisata di Lembang. Mujurnya, beberapa kamar di sana kosong, dan kami boleh menginap dengan cuma-cuma. Sebetulnya waktu itu cowok juga boleh menginap di salah satu kamar yang kosng, cuma informasi ini terlambat kami ketahui, dan dua supir kami entah sudah pergi ke mana? Nasibmu lah ya mas. 

Pagi menjelang, kami bergegas bangun dan bergantian mandi. Ada juga yang tidak mandi karena tidak terbiasa menghadapi air sedingin es. Sekitar pukul 7 kami pamit pada ibu kos, karena teman kami yang punya kosan malah sudah masuk kuliah. Duo supir kami dengan sigap menjemput. Karena masih pagi dan tempat wisata tujuan maish tutup kami putuskan untuk cari sarapan. Pilihan kami jatuh kepada nasi kuning pinggir jalan. Lupa-lupa ingat berapa harga nasi kuning seporsi sekitar 12 ribu lah. Soal makan memang Jogja tiada banding murahnya. Didepan pondok saya aja, nasi kuning hanya 6 atau 7 ribu.

Selesai sarapan kami lansung tancap gas ke Farmhouse, sayangnya masih tutup cin. Jadi kita tunggu beberapa saat gitu sampai jam 8, baru deh gerbangnya dibuka. Tiket masuk Farmhouse sendiri 25 ribu plus kita bisa milih untuk ambil susu atau sosis. Saya pilih susu!

ala ala hand in frame, tapi gagal

Lalu apa saja yang bisa dinikmati selain susu di Farmhouse? Banyak. 

Paduan gedung-gedung kebarat-baratan dan bunga-bunga yang bermekaran di sana-sini menjadikan tempat ini instagramable sekali. 



Belum lagi rumah Hobbit dan tempat mengunci gembok seperti di Namsan Tower, yang juga iconic.




Kalau lelah juga bisa duduk-duduk dulu sambil menyesapi susu dengan penuh konsentrasi.


Ada juga view dari ketinggian. 

Buat penyuka binatang, di sini kalian juga bisa main sama domba, kelinci, bahkan iguana.  Juga disediakan makanan mereka dengan harga 10 ribu. 

Sudah puas di Farmhouse, kami masih belum ingin pulang. Akhirnya atas rekomendasi supir, kami lanjutkan perjalanan ke Floating Market. Kalau diterjemahkan sih jadinya pasar apung, tapi please jangan dibayangkan seperti di iklan RCTI Oke ya! Beda.

Well tempat ini konsepnya hampir sama dengan Farmhouse, dengan tiket masuk 15 ribu kita sudah dapat minuman hangat. Ada enam rasa yang ditawarkan, dan saya pilih Milo dong. Karena namanya pasar apung, makan bayangan saya sebelum masuk tempat ini adalah air yang melimpah. Dan benar saja di tengah-tengah area yang sangat luas ada semacam danau, yang saya kira pastilah danau buatan.  Di sini kita bisa ngapain? Tentu saja foto-foto, karena tempatnya juga instagramable abis.


Selain itu di sini juga dijual berbagai macam makanan dengan kisaran harga 20 ribu ke atas dengan kelipatan 5 ribu. Untuk bisa membeli makan kita harus menukar uang dulu dengan koin. Adapun koin satuan koin terkecilnya adalah 5 ribu, makanya harga makanan dan minuman di sini juga kelipatan 5 ribu. Saya alhamdulillah beli pisang goreng yang harganya 20 ribu dan cuma dapat 5 potong. Hahahaha. Mending beli di angkringan di Jogja deh, 20 ribu beli gorengan udah di makan sama anak-anak  kamar. 


Kami juga sempat naik perahu dengan ongkos 15 ribu/ orang. 

menang balap perahu be like

squad

Dan akhirnya, selepas dzhuhur akhirnya kita mau nggak mau harus pulang daripada jadi buronan penyewa mobil. Bye Bandung! See you. 

Dan meluncurlan kami meninggalkan kota Bandung. Yang memang benar Bandung adalah kota. Nggak kaya Jogja yang rasanya itu seperti ndeso banget. Halah.

Pulangnya kami mampir Majenang untuk memulangkan salah satu teman kami dan sekalian minta makan. Dan sampai Jogja tepat ketika adzan subuh berkumandang.

Begitulah kira-kira jalan-jalan 2x24 jam plus-plus kami yang padat dan menyenangkan.

Sesuai kesepakatan saya akan beri rincian dana, yaitu:

Sewa mobil 2x300 ribu +  denda 80 ribu : 680 ribu
Bensin : 750 ribu
Supir : 250 ribu
Tol, parkir, makan supir : 200 ribu
Subsidi manten 200 ribu
Subsidi teman 100 ribu
Jadi total pengeluaran kelompok 1.580,000 rupiah.
Dan entah gimana caranya kemarin semua tercover dengan kami membayar iuran 260 ribu.

Jadi pengeluaran per orang 260 ribu, plus
Masuk Farmhouse 25 ribu
Masuk Floating Market 15 ribu
Sarapan 15 ribu
Jajan 20 ribu
Jadi total pengeluaran per orang adalah 335 ribu!

Tentu pengeluaran kami beda-beda dong. Tergantung tingkat kemiskinan hahah. Tapi kan ya kira-kira segitu lah. Gimana murah bukan?

nb: kita belom jadi nonton bareng loh!

2 Komentar