Belum 2 bulan saya secara resmi menyandang gelar pengangguran, tapi jiwa dan raga ini sudah sangat tidak nyaman dibuatnya. Beruntung meskipun saya pengangguran saya tidak nganggur-nganggur amat. Berbagai kegiatan seperti wawancara kerja, tes psikotes, seminar internasional, hingga seminar-seminar beasiswa saya ikuti demi membunuh rasa bosan dan gelisah.

Sabtu 7 Oktober lalu saya berkesempatan untuk mengikuti First International Seminar on Biotechnology yang digelar oleh jurusan Bioteknologi, Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada. Mengklaim diri sebagai acara berskala international acara ini diikuti setidaknya oleh lima negara yakni, Indonesia, Thailand, Jepang, Jerman dan Austria.

Acara ini terbagi menjadi sua sesi yakni sesi panel dan sesi parallel. Pada sesi parallel empat keynote speaker dari negara tamu menyampaikan hasil penelitian mereka. Prof. Montarop Yamabhai dari Suranaree University, Thailand; Prof. Reiko Shinkura dari NAIST, Jepang; Prof. dr. rer. nat. Bernard Grimm daru Humboldt University, Jerman: dan Prof. Dietmar Haltrich dari Boku University, Vienna. Semuanya menyampaikan speech panjang yang sungguh sangat rumit (hahah gini kok ngakunya pengin sekolah lagi).

Tiba pada sesi parallel, sekitar 92 presenters yang terbagi menjadi dua kategori yakni oral presenter dan poster presenter. Saya dan ke-empat teman satu dosen pembimbing skripsi saya merupakan salah lima dari semua peserta. Empat dari kami ikut sebagai oral presenter dan satu sisanya karena insiden malah jadi peserta poster presenter. 



Ini adalah kedua kalinya saya mempresentasikan hasil penelitian saya, setelah hari pendadaran skripsi yang sangat mengocok adrenalin. Tantangan terbesar dari presentasi ini bukan pada penguasaan materi penelitian, toh sebagian besar pertanyaan sudah diajukan di meja pendadaran dan saya sudah mengetahui jawabnya. Lagi pula peserta presentasi yang kebanyakan mahasiswa juga saya rasa tidak mungkin mengajukan pertanyaan sulit yang memojokkan, apalagi waktu yang diberikan sangatlah singkat. Baiklah saya pasti dapat mengatasi audiens. Tantangan terbesarnya adalah saya harus menyampaikan presentasi dalam Bahasa Inggris.

Beberapa minggu terakhir acara ini sungguh menjadi momok bagi saya. Terlebih saya yang sibuk wawancara kerja dan lainnya menjadi tidak punya waktu untuk belajar. Hingga pada akhirnya H-2 saya dan teman saya memiliki waktu untuk belajar. Saya membuat narasi presentasi saya dalam Bahasa Inggris kemudian saya hapalkan.

Pada hari H saya berhasil menghapal. Setidaknya saya harus berhasil dulu mempresentasikannya dengan lancar dan percaya diri. Soal menjawab pertanyaan dipikir nanti. Kebetulan tidak ada teman sejawat yang satu ruangan dengan saya. Praktis saya tidak mengenal peserta lain yang seruangan dengan saya. Ah aman, pikir saya. Saya tidak perlu malu. Hingga tiba saat giliran saya presentasi, JENG JENG masuklah dosen yang sangat saya segani. Doi tuh selama saya kuliah dan ngelab paling hobi menertawakan orang. Ketawa ngece yang sungguh mengerikan. Nah mulailah lemas kaki saya. Kepercayaan diri yang susah payah saya bangun langsung runtuh.

Mau tidak mau saya harus tetap presentasi. Hapalan saya buyar setengahnya. Pada sesi tanya jawab, karena tidak ada yang menjawab entah kenapa moderator malah mengungkit-ngungkit dosen saya. Alhasil akhirnya dosen saya itu mengajukan pertanyaan Sebuah pertanyaan singkat dengan jawaban yang super singkat pula. Lalu beliau hanya mengiyakan jawaban saya dengan pasrah. Wah sangat tidak tipe bapak dosen saya sekali. Saya pikir beliau pasti akan mengajukan pertanyan yang membelit seperti ular.

Usut punya usut ternyata ada kesalahpahaman antara moderator dengan beliau. Sebenarnya beliau tidak ingin bertanya, hanya ketika akan menutup pintu tangannya seperi mengangkat dan ingin mengajukan pertanyaan. Menurut penuturan teman saya ketika dosen saya itu ditunjuk untuk mengajukan pertanyan bahkan beliau membuat ekspresi super bingung sambil berkata "Aku kon takon opo???" Oh iya teman-teman saya yang telah selesai presentasi ketika saya memulai presentasi pun akhirnya menyaksikan presentasi saya (hahaha kan kampr*t).

Pada akhirnya saya sangat senang dapat mengikuti kegiatan ini. Ini pertama kalinya dan saya berharap masih ada kedua ketiga dan seterusnya. Dosen skripsi sayalah yang kemudian memegang andil terbesar. Saya dan teman-teman mengikuti kegiatan ini atas permintaan beliau. Bahkan uang pendaftaran kita pun dibayarin. Setelah saya pikir-pikir kok kayaknya kalau kami tidak dibayarin kami tidak akan pernah ikut kegiatan semacam ini (betapa qizmin dan pelitnya kami). Ketika pelaksanaan acara saya baru sadar melihat antusiasme peserta lain yang bahkan tidak menjadi presenter, mereka rela jauh-jauh datang dari luar kota. Dan bayar sendiri tentunya. Ternyata acara seperti ini tuh memang keren. Kalau kata teman saya tahun depan kita harus ikut lagi, tapi jadi poster presenter biar beda. Semoga tahun depan kami bisa ikut lagi.

teman sekaligus rival

teman satu dosen pembimbing skripsi, kecuali mbak yang di sebelah kanan w

Salam. 

0 Komentar