Minggu ini dan minggu kemarin mungkin adalah minggu-minggu tergalau untuk saya. Ya gimana, bayangin aja saya baru lulus, belum dapat kerja, belum juga dapat kejelasan akan lanjut kuliah lagi, di mana? 

Tapi sebenarnya bukan itu yang jadi concern saya. Kegalauan terdalam itu berasal dari perasaan tidak enak hati yang amat sangat setiap uang habis dan mau minta kiriman. Saya kan sudah lulus, sudah jadi sarjana, masa masih minta uang ke orang tua? 

Untuk itu saya bertekad untuk mencari nafkah sendiri. Awalnya saya kepikiran untuk bekerja apa saja asal halal dan masih di Jogja. Tapi ternyata tawaran bagus datang. Ya sebuah perusahan, meskipun tidak terlalu besar, sedang mencari tenaga ahli mikrobiologi untuk ditempatkan di bagian Research and Development (RnD). Pas banget kan sama posisi saya sekarang. Fresh graduate microbiologist. So dengan tanpa berpikir panjang saya lamar deh. 

Pertengahan September saya kirim lamaran, tidak lama setelah itu saya dipanggil untuk wawancara. Ternyata yang melamar hanya empat orang! Tiga di antaranya saya dan dua orang teman saya, yang juga satu jurusan, bahkan satu dosen pembimbing! Kurang tahu juga kenapa sedikit sekali peminatnya. Parahnya ketika wawancara kandidat terakhir, yang saya tidak kenal, tidak datang. Lengkap sudah hanya saya dan kedua teman saya yang sekarang bersaing memperebutkan posisi tersebut. Ketika wawancara berakhir, staff HRD-nya berkata bahwa masih ada proses tes psikotes setelah wawancara. Hmm agak aneh sih ya proses rekrutmennya, di mana-mana tuh psikotes dulu, baru dipanggil wawancara. Tapi ya sudahlah ikutin aja. 

Minggu berikutnya kami dipanggil lagi untuk mengikuti psikotes. Iya kami bertiga. Tapi salah satu teman saya memilih untuk tidak mengambil kesempatan ini. Lalu majulah saya dan seorang teman saya yang lain. Dan sekarang hanya kita berdua yang bersaing memperebutkan posisi tersebut. I can tell nothing from either the interview or psycotests. Saya sama sekali tidak memiliki gambaran siapa yang akan mendapatkan posisi ini. Bisa dikatakan kami memiliki kualifikasi yang sama. Pasti sulit bagi mereka menetukan siapa?

Tiga paragraf di atas adalah akar kegalauan saya. Saya tidak tahu harus berharap lolos atau tidak. Saya bahkan tidak siap mendengar apapun keputusan mereka. Di satu sisi saya senang jika akhirnya lolos dan berkesempatan berkarir di bidang yang sesuai dengan jurusan kuliah saya. Di sisi lain saya masih punya tanggungan yang seharusnya saya tuntaskan hingga April 2018. Yaitu mondok. Bisa dibilang sekarang adalah masa kritis saya di pondok, ibarat orang kuliah sekarang adalah semester akhir di pondok dan saya dituntut untuk mengerjakan Tugas Akhir (TA).

Saya berpikir mungkin ini adalah kesempatan untuk keluar dari pondok. Jujur kadang saya ngerasa penat dengan kegiatan di pondok yang sangat padat dan peraturannya yang begitu ketat. Ingin sekali merasakan hidup sendiri dan punya kamar sendiri. Walaupun kadang juga saya merasa belum siap hidup sendiri. Duh kompleks bangetlah pokoknya!

Kegalauan lainnya adalah keinginan saya untuk kuliah lagi. Kalau saya kemudian bekerja, masihkah ada kesempatan untuk kuliah lagi. Nanti tentu saya akan jauh dari kampus, jauh dari teman-teman, dan jauh dari dosen-dosen. Saya juga pasti akan sibuk dengan tanggung jawab saya di kantor. Bisa juga nanti saya terjebak zona nyaman karena sudah punya uang dan kehilangan semangat untuk sekolah lagi. Selain itu, kontrak kerja yang belum jelas berapa lama juga mengganggu pikiran saya. Kalau nanti saya kuliah setelah kontrak kerja usai, apa tidak terlalu tua? Trus saya kapan nikahnya? Aaaa mau meledak kepala ini buat mikir. 

Tapi... kalau saya nanti tidak jadi kerja, kembali lagi ke permasalan awal. Masa sudah lulus masih mau minta uang ke orang tua. Pada kasus ini orang tua saya juga sudah sangat mendukung saya untuk bekerja. Aaa saya nggak mau memberi mereka harapan palsu. Saya tahu pasti mereka juga sudah lelah membiayai hidup saya. :(

Sekarang saya pasrah saja dengan keputusan Allah. Mau saya keterima atau tidak nantinya, saya yakin itu yang terbaik menurut Allah. Setidaknya saya sudah menggunakan kesempatan saya.

Beberapa hari yang lalu saya membaca status orang di twitter yang bunyinya kira-kira "jika saya bisa bilang ke diri saya sendiri 5 tahun yang lalu, saya akan bilang: gunakan kesempatan sebaik mungkin. jangan banyak mikir gimana kalau gini? gimana kalau gitu?" Nah itulah prinsip yang saya terapkan sekarang. Saya akan menggunakan apapun kesempatan yang ada. Saya tidak mau menyesal di masa depan karena menyia-nyiakan kesempatan.

Terimakasih sudah membaca sampai selesai. :)

Foto: nakedplanet

0 Komentar